Jenis- jenis wayang

mencoba mengulas sedikit tentang macam macam wayang

Continue Reading Oktober 27, 2009 at 5:04 am Tinggalkan komentar

Asal Wayang

asal usul wayang

Continue Reading Oktober 27, 2009 at 4:47 am Tinggalkan komentar

Nyadran di Bengawan Solo

nyadranLila tumekeng praloyo
Mangka tumbal mbenjang raharjaning nagri
Tur to kathah cacahipun
Tan kaprah mungguhing jalma
Pinitenah tan cetha dununging luput
Baya karsaning jawata
Panengraning jaman sisip

Ikhlas menemui ajal
Jadi tumbal kesejahteraan negeri di masa depan
Betapa banyak jumlahnya
Difitnah dan tak jelas salah mereka
Adakah itu kehendak Tuhan
Sebagai pertanda jaman kegelapan

— Pangkur Duda Kasmaran

Matahari agak garang memancarkan sinarnya pagi itu. Waktu baru beranjak ke pukul sembilan pagi, tapi udara sudah terasa cukup panas. Dari Wisma Yayasan Indonesia Sejahtera di daerah Kleco – tempat acara Tutur Perempuan berlangsung sehari sebelumnya – iringan tiga bis besar bergerak ke arah selatan kota Solo. Bis-bis yang mengangkut ibu-ibu dan bapak-bapak korban Tragedi 1965, beserta belasan anak muda yang mendampingi mereka ini, menuju Jembatan Bacem (Kretek Bacem) yang melintang di atas salah satu anak sungai Bengawan Solo, di Desa Grogol, Kabupaten Sukoharjo. Dari ingatan sebagian masyarakat di Solo terbetik cerita bahwa 40 tahun yang lalu diperkirakan ratusan orang dibunuh dan dibuang ke kali di bawah Jembatan Bacem karena dituduh terlibat kudeta Gerakan 30 September (G30S). Hari itu, Minggu, 2 Oktober 2005, puluhan ibu dan bapak berusia diatas 60 tahun yang berasal dari Solo dan kota-kota di sekitarnya berniat melakukan ziarah, sekaligus memperingati tragedi berdarah tersebut.

Ziarah yang disebut nyadran ini peristiwa langka. Setelah kurang lebih 40 tahun pembantaian berlalu, baru kali ini keluarga dan kawan-kawan para korban mendapat kesempatan mengenang dan memberi penghormatan secara terbuka bagi orang-orang terkasih yang telah dimusnahkan tanpa penjelasan yang adil. Untuk sebagian peserta upacara, ini kali pertama pula mereka akan melihat sebuah situs penganiayaan yang menyimpan terlalu banyak kisah pedih. Namun, yang sejak awal sudah tampak mengesankan adalah bagaimana bapak-bapak dan ibu-ibu dari Pakorba Solo dengan rapi dan matang mempersiapkan hajatan ini. Di tengah ancaman dan gertak kelompok-kelompok yang masih saja terus-menerus membangkitkan kebencian terhadap korban Tragedi 1965, ditambah lagi dengan keterbatasan dana, waktu, dan sumber daya manusia, mereka upayakan sebuah wahana mengenang dan dengan cara yang sangat bersahaja.

Di dalam bis tak ber-AC, udara panas lembab membuat seluruh tubuh segera terguyur peluh. Kegerahan toh tidak menghalangi sekelompok ibu dan bapak asyik berbincang tentang pengalaman mereka di masa revolusi kemerdekaan dan sebelum peristiwa 1965. Suara lantang Bu Salwiyah, mantan anggota Gerwani Jawa Tengah, terdengar mengatasi tanggapan bergantian lawan bicaranya. Berkain batik dan berkebaya merah marun dari bahan brokat, lengkap dengan sanggul, ia berlutut di kursinya menghadap ke arah belakang, tempat duduk beberapa bapak berkemeja batik dengan rambut yang sudah memutih semua. Bis sempat bergerak lambat, bahkan berhenti beberapa saat karena terhalang gelar promosi rokok merek MENARA. Untungnya jalanan sempit menuju Desa Grogol tak terlalu padat, sehingga bis bisa segera melaju kembali.

Setengah jam kemudian, iringan bis tiba di tempat tujuan. Berombongan para ibu dan bapak saling bergandeng tangan menyeberang jalan, menuju lokasi acara sambil menenteng keranjang-keranjang kecil berisi bunga tabur. Secara teratur rombongan berjalan melalui gang-gang kecil perkampungan di sekitar kali. Di ujung kelokan terakhir ada jalan setapak menurun untuk memasuki pelataran cukup luas, yang melandai ke arah bantaran kali di kolong selatan jembatan. Pokok-pokok rindang di awal turunan, tetumbuhan liar, dan rumpun-rumpun pohon pisang tanpa buah di sekeliling pelataran, meredam terik matahari dan debu jalanan. Sementara, dinding beton kusam penyangga jalan raya di sisi timur ikut jadi peneduh, sekaligus menegaskan batas belakang ruang hadirin. Tak ada dekorasi atau spanduk yang menandai akan berlangsungnya upacara peringatan sebuah prahara.

Barisan pagar betis bapak-ibu panitia dengan santun menyambut para tamu. Sang ketua, Bu Sarbinatun, dengan sanggul yang dihiasi bunga kaca piring, berkebaya biru langit dan kain parang rusak latar putih, terlihat anggun berdiri di tengah kerumunan orang yang melihat-lihat dan mencari tempat. Seorang bapak membagikan pita-pita kecil hitam dengan peniti untuk disematkan di baju para hadirin. Sementara itu Pak Mulyadi, Pak Sumidi, dan Pak Supeno mempersilakan korban dan keluarga mereka duduk di deretan kursi yang tertata rapi memanjang dari kolong utara jembatan.

Pelataran tanah gersang yang biasanya dipenuhi sampah dan ilalang meranggas ini beberapa hari sebelumnya telah dibersihkan panitia dengan bantuan masyarakat setempat. Di hadapan deretan kursi tamu dibangun panggung sederhana di bawah lindungan atap jalinan daun nipah dengan tiang-tiang bambu. Sekelompok penabuh gamelan – berbaju beskap putih dengan blangkon batik – menempati sebagian panggung, di belakang waranggana (penyanyi laki-laki), ibu-ibu pesinden dan panembrama (paduan suara) yang bersimpuh sambil melantunkan tembang-tembang (lagu) syahdu. Walaupun panitia masih mondar-mandir, dan para tamu berceloteh satu sama lain, serta gamelan masih lirih berbunyi – atau justru karena itulah – suasana khidmat sudah mulai terbangun.

Beberapa langkah di sebelah selatan panggung tampak anak sungai yang sedang dangkal, berwarna abu-abu pekat, mengalir tenang di sela-sela geragal, onggokan sampah dan gundukan dasar tanah yang menyembul. Pandangan lepas ke seberang sungai sejenak terhalang dua pilar beton yang menjulang gagah – mungkin setinggi 10-an meter – tampuknya mencengkeram lintang kerangka besi-baja Jembatan Bacem baru. Setiap kali kendaraan lewat, jembatan serasa terguncang dan rangka-rangka yang beradu timbulkan gemuruh yang bergema sampai ke bawah. Kira-kira sedepa dari pasangan pilar jembatan baru, reruntuhan pondasi Jembatan Bacem lama, walau tak menjulang, masih kokoh berdiri. Puncaknya tercabik-cabik cuaca dan waktu, ditumbuhi lumut dan rumput, dan dindingnya menghitam. Tanpa jembatan, pondasi ini jadi semacam prasasti; bersama aliran bengawan mengandung riwayat orang-orang yang terbuang.

Menjelang pukul 10.00 pelataran telah dipadati ratusan orang dari berbagai kalangan. Kursi hadirin terisi penuh oleh ibu-ibu berbusana rapi – beberapa berkebaya dengan kerudung aneka warna – serta bapak-bapak berkopiah, berkemeja batik atau hitam. Puluhan aktifis muda dari berbagai organisasi di Solo, Boyolali, Yogyakarta dan Jakarta memilih bersimpuh di panggung bersama ibu-ibu panembrama, berdiri di samping deretan kursi hadirin atau di sepanjang bantaran kali. Mereka yang bertugas mendokumentasikan acara sudah berkeliling mengambil gambar dari berbagai sudut. Penduduk setempat – anak-anak ingusan, ibu-ibu berdaster menggendong bayi dan sekelompok pemuda – mengamat-amati panggung dan rombongan tamu dari kejauhan. Sebagian dari mereka pernah mendengar bahwa Bengawan Solo menjadi tempat pembuangan mayat-mayat “orang PKI”. Tetapi tak terpikirkan oleh mereka bahwa lingkungan hidup mereka suatu saat akan diziarahi ratusan orang.

Tak lama kemudian acara dibuka oleh MC, pembawa acara, si Tukang Cerita Agus “PM Toh” Nuramal, dari Jakarta. Kali ini dia tidak melawak. Ia mempersilakan salah satu saksi hidup penghilangan orang-orang di Jembatan Bacem, Pak Bibit, namanya. Dengan diantar Pak Sumidi, ia menuju ke panggung dan menuturkan kisahnya, dengan bahasa Indonesia berlogat Jawa kental yang terpatah-patah.

Ia menceritakan, ketika di dalam tahanan di Kodim ia menyaksikan satu persatu kawan-kawannya diambil dan tak pernah kembali lagi. Menurut hitungan kasar Pak Bibit, tahanan yang dibawa dari Kodim tersebut, dan kemungkinan dibunuh di Jembatan Bacem, berjumlah sekitar 144 orang. Belum terhitung dari penjara atau tempat penahanan lainnya. Ia juga mendengar cerita, beberapa hari setelah pembantaian terjadi, aparat keamanan memerintahkan masyarakat setempat untuk membersihkan bekas darah yang masih menempel di pembatas besi jembatan lama.

Sebentar saja Pak Bibit bercerita. Tapi ujarannya yang lugas tanpa bunga-bunga kata, langsung mengisi ruang hening hadirin dengan alasan pentingnya tempat dan hari itu. Suasana khidmat sempat terganggu sejenak ketika seorang bapak, wakil Pakorba dari Jakarta, menyampaikan orasi berapi-api tentang konspirasi “agen-agen Nekolim” dan CIA dalam penggulingan Presiden Soekarno dan kekejaman Soeharto terhadap orang-orang yang dianggap komunis. Ia menekankan pentingnya gugatan korban Tragedi 1965 terhadap 5 presiden untuk mencapai keadilan. Dari tengah hadirin yang berdiri tiba-tiba terdengar teriakan “Hidup komunisme!” beberapa kali. Keresahan mulai menjalar di kalangan tamu yang melihat beberapa petugas kepolisian bersiaga di pinggir-pinggir arena upacara. Seorang ibu dari panitia menggerutu dalam bisikan, “Orang-orang ini siapa sih mbak? Kok di acara seperti ini malah mancing masalah?”

Untunglah panitia dengan sopan segera meminta tamu-tamu yang tak diundang tersebut ke luar meninggalkan arena upacara. Salah satu dari mereka memakai kaus oblong putih dengan sablonan palu arit besar hitam, dan yang lain mengenakan jaket nilon hijau daun bertuliskan “Aitarak” – nama kelompok milisi pembunuh binaan TNI di Timor-Leste – di bagian punggungnya. Sementara itu, MC segera meminta Romo Mardi Widayat, penasehat PMKRI Solo, dan Imam Azis dari Syarikat Indonesia bergiliran menyampaikan pesan-pesan perdamaian dan doa mereka. Kedua rohaniwan ini menyoroti pentingnya upaya pengungkapan kebenaran tentang apa yang sesungguhnya dialami para korban demi mencegah keberulangan, terutama dalam kaitan dengan tindak kekerasan dan pelanggaran hak-hak asasi manusia yang dilakukan rezim Orde Baru.

Selanjutnya, dua orang ibu diminta menuturkan pengalaman mereka sebagai korban. Ibu pertama menceritakan pengalamannya ketika ditangkap, ia terpaksa membawa serta dua orang anak dan satu bayi yang masih dikandungnya ke dalam penjara. Sedangkan ibu kedua, Bu Sumini, berkisah dengan suara tersendat menahan tangis. Namun ia menegaskan, bahwa ia tidak bersalah dan tidak punya kaitan apa pun dengan peristiwa di Lubang Buaya, tetapi harus mengalami penahanan bertahun-tahun, pelecehan dan kekerasan seksual. Tim Tutur Perempuan sempat tersentak mendengarkan penuturannya, karena sepanjang acara Tutur Perempuan dua hari sebelumnya Bu Sumini tak pernah menceritakan kekerasan yang dialaminya. Malahan, berulangkali ia diminta mewakili kelompoknya menyajikan hasil diskusi, karena dengan gayanya yang kocak dan bersemangat ia selalu berhasil meramaikan suasana pertemuan. Mantan anggota Pemuda Rakyat dari Pati ini menutup kesaksian singkatnya dengan beberapa kali meneriakkan, “Kami tidak bersalah, kami tidak bersalah!” sambil masih terisak, tapi mengepalkan tangan.

Kumaleyang
Lataking katiubing angin
Aduh biyung, paran ingkang purukipun

Melayang-layang
Dedaunan kering diterpa angin
Aduh emak, ke mana akan dibawa

Tembang Suluk mengalun, membawa hadirin ke acara utama. Ki Dalang Sri Joko Raharjo, yang bersila di tengah panggung di antara dua nyiru berisi sesajen buah-buahan dan kembang setaman merah putih, menguluk sembah dan mendengungkan mantra dalam bahasa Jawa Kuno. Asap dupa yang terlebih dahulu dinyalakan meliuk-liuk seperti tabir benang kapas ikuti nafas halus ibu-ibu pesinden dan panembrama. Ibu-ibu dan bapak-bapak lansia beranjak dari tempat masing-masing, mengambil keranjang-keranjang bunga tabur berselempang pita kertas biru putih, dan berjalan menuju tangga untuk naik ke atas jembatan. Rombongan riuh rendah untuk sementara waktu, ketika mereka mendaki anak-anak tangga curam hampir tegak lurus. Seorang ibu tampak kepayahan dan harus berhenti sebentar di tengah tangga untuk menarik nafas, sementara kawan-kawan muda yang lain membimbing dua ibu tua untuk mencapai trotoar di sepanjang jembatan.

Ana tangis layung-layung
Tangise wong wedi mati
Gedhongono kuncenono
Mangsa wurunga wong mati

Ada tangis merintih
Tangis orang takut mati
Meski di gedung terkunci
Tetap saja orang akan mati

Memasuki bait awal Ladrang Layung-Layung rombongan mulai mencari tempat untuk berjajar di pinggir terali segitiga jembatan. Perhatian kawan-kawan muda terpecah antara rasa pedih mendengar alunan gendhing dan tembang berlirik pilu, terharu menyaksikan gerak lambat tapi bersemangat ibu-ibu manula, dan khawatir ramainya jalan raya akan membahayakan keselamatan para ibu. Kekhawatiran baru mereda saat kawan-kawan melihat sekelompok laki-laki muda berseragam hitam-hitam sudah bersiaga memagari prosesi agar kendaraan yang lalu-lalang tidak sampai menabrak peziarah.

Di tiang-tiang jembatan terpampang spanduk NYADRAN KORBAN 1965 membuat beberapa pengemudi melambatkan kendaraan mereka, dan bertanya kepada barisan pagar betis. Suara gendhing yang seharusnya menjadi tanda saat menabur bunga hanya lamat-lamat terdengar. Ibu-ibu pun mulai menabur bunga mengikuti keinginan hati mereka, sampai panitia meminta taburan diperlambat sambil menunggu rakit yang akan meluncur tiba persis di bawah jembatan. Ada seorang ibu yang tertegun menatap kali, terus-menerus bergumam sendiri sambil menjumput dan melempar serpihan-serpihan bunga; ada yang terisak pilu ditenangkan kawan-kawannya; ada yang saling bercerita tentang bagaimana Peristiwa 1965 mengoyak-ngoyak kehidupan mereka.

Salah satu ibu, Mbah Lurah – demikian ia biasa dipanggil karena suaminya yang hilang adalah seorang lurah – datang bersama adik perempuan yang suaminya juga hilang, anak perempuan, menantu dan cucu-cucunya. Pada 1965 suami Mbah Lurah yang juga ketua sebuah organisasi persatuan kepala desa dikejar-kejar untuk ditangkap. Ia sempat menyembunyikan diri beberapa saat. Istrinya kemudian menyarankan agar dia menyerahkan diri saja ke kecamatan. Sang suami menurut. Tetapi sejak itu ia tak ada kabar beritanya, dan tak pernah pulang lagi. Orang mengatakan, ia telah dibunuh di Jembatan Bacem dan dibuang ke kali.

Hari itu Mbah Lurah hadir dengan dandanan yang gandes: berkain batik, berkebaya hitam, dengan selendang terselempang di pundaknya. Semalam sebelumnya, anak perempuan Mbah Lurah menulis surat kepada bapaknya untuk dilarung bersama rakit pembawa pesan:
Pak, ini saya, anakmu datang bersama dengan Simbok, istrimu, dan cucu-cucumu datang ke sini untuk menunjukkan cinta kami kepadamu.
Pak, semoga arwah bapak diterima di sisi Tuhan. Kami, anak dan cucu-cucumu, akan meneruskan perjuanganmu.
Dari istri, anak, dan cucu-cucumu

Mereka yang tidak naik ke atas jembatan berkerumun di bantaran kali, menunggu datangnya rakit gedebog (batang pisang) dari arah barat, Langen Harjo. Hembusan angin menggiring lantunan bait-bait miris Pangkur Duda Kasmaran ke rongga dingin antara air kelabu dan pilar-pilar beton penyangga jembatan. Sesekali terdengar teriak panitia yang memberi aba-aba bagi penabur bunga. Tak berapa lama rakit dengan tiang bambu berbendera merah putih kecil berlayar mendekat. Dua orang bapak berdiri sambil mendayung. Di antara kaki-kaki mereka tampak tas-tas plastik berisi surat-surat dari keluarga dan kawan-kawan para korban yang ditulis semalam sebelumnya. Tepat di sebelah pondasi jembatan lama laju rakit melambat. Ribuan kelopak kembang setaman merah putih semakin deras bertaburan, pasrah diayun angin, kemudian terhempas di riak-riak mengalir. Sejenak bayangan tubuh para martir yang melayang seakan berkelebat.

Wus meh tumurun pra suksma linuwih
Karsaning Hyang Manon
Wus samya samapta hing ngarsane
Sinung saliring pusaka adi
Mawa daya linuwih
Mbenjang ing palugon

Sudah hampir turun para arwah mulia
Demi kehendak Hyang Mahatahu
Sudah menghadap semua di hadiratNya
Diberilah semua pusaka utama
Dengan daya maha ampuh
Kelak di medan juang

Tiba-tiba sorakan dan tepuk tangan menggema. Satu gentong besar berisi bibit ikan lele ditumpahkan ke tengah rakit sebagai perlambang kelanjutan perjuangan bagi yang hidup. Dari bantaran kali lusinan Burung Alasan (burung-burung liar) dilepaskan, sebagai lambang pembebasan arwah korban. Ratusan surat berisi ucapan selamat jalan dan doa diluncurkan bersama perahu-perahu kecil. Bebungaan tak berhenti berhamburan. Angin yang cukup kencang membawa kembali sebagian kelopak bunga mawar ke arah jembatan dan mendarat di besi-besi penyangga. Akhirnya, rakit direlakan melaju ke timur tanpa kemudi, ikuti alunan air yang sekarang berhiaskan tebaran bunga seperti hamparan permadani pengantin. Gamelan masih berbunyi, iringi syair penutup, Ayak-ayakan Tlutur

Enggih sampun jengkar Sang Hyang Manon
Marepeki pasebaning para suksma adi luwih
Peparinge sangsangan puspita rinonce
Minongka pratandha tentreming bawana
Para suksma adi luwih

Syahdan, undur sudah Sang Hyang Mahatahu
Menyambut penghadapan arwah yang amat mulia
Anugerah kalung untaian bunga
Sebagai pertanda ketenteraman dunia
Para arwah yang amat mulia

Upacara telah usai.
Rombongan peziarah beriringan meninggalkan jembatan. Pak Bronto, eks-perwira intelijen Sukarnois, yang sesiangan lalu-lalang mengatur pengamanan upacara, duduk terpekur di salah satu sudut kolong jembatan. Pandangan tajamnya meredup seiring sisa alunan gendhing. Di sudut lain, seorang bapak eks-tapol yang sekarang hidup dari menjual susu kedelai dengan tawa cerah membagikan kantung-kantung kecil berisi susu kedelai hangat kepada setiap tamu yang pulang. Kawan-kawan muda ada yang bergerombol di sisi panggung, ada yang menyendiri, merokok, sambil mengamati ruang upacara yang mulai kosong dengan lebih awas. Satu dua pasang mata tampak sembab. Tak lagi banyak suara karena yang mereka saksikan sudah menjarah hampir seluruh perbendaharaan kata mereka tentang pedih-ngeri sebuah tragedi, tentang keteguhan orang-orang yang terus berusaha lampaui pedih-ngeri, dan tetap menjadi manusia bersahaja.
Ruang dan siang itu memang tak cukup luas untuk menggelar setiap 40-tahun yang dilalui masing-masing korban. Namun, di lingkar kebersamaan yang terbatas ini telah tumbuh sebuah kesepakatan lintas generasi: bahwa titik-titik kebenaran yang sudah dan akan terungkap lewat cerita, tembang, doa atau ziarah harus dirangkai menjadi sejarah baru. Bahwa sejarah baru itulah yang akan membekali generasi selanjutnya dengan keyakinan bahwa kesejahteraan suatu negeri tidak pernah boleh bertumpu pada penganiayaan dan pemusnahan anak manusia dari kaum mana pun.?

Jakarta, 10 November 2005

Tim Penulis ‘Lingkar Tutur Perempuan’:
Ayu Ratih
B.I. Purwantari
E. Rini Pratsnawati
Rita Dharani
Th. J. Erlijna

Oktober 26, 2009 at 2:52 am Tinggalkan komentar

Sesaji sawah

sesaji sawah, sebauh ritual yang dilakukan oleh para petani untuk berwasilah dan berdoa kepada tuhan agar diberi hasil panen yang melimpah.

Continue Reading Oktober 16, 2009 at 2:42 am 1 komentar

Upacara Mitoni (7 bulanan)

UPACARA MITONI

Kehamilan dipercaya merupmitoniakan fase di mana calon jabang bayi sudah mulai berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya melalui perantaraan sang ibu. Hubungan psikis antara ibu dan anak pun sudah mulai terjalin erat mulai dari fase ini. Bagi masyarakat Jawa, kehamilan adalah bagian dari siklus hidup seorang manusia. Oleh karena itu keberadaan si calon jabang bayi selalu dirayakan oleh masyarakat Jawa dengan ritual yang bernama mitoni.

Mitoni sendiri berasal dari kata pitu atau tujuh. Hal itu karena mitoni diadakan ketika usia kandungan masuk tujuh bulan. Ritual ini bertujuan agar calon bayi dan ibu selalu mendapatkan keselamatan. Ada beberapa rangkaian upacara yang dilakukan dalam mitoni, yaitu siraman sebagai simbol, memasukkan telor ayam kampung ke dalam kain calon ibu oleh sang suami, ganti busana, memasukkan kelapa gading muda, memutus lawe/lilitan benang/janur, memecahkan periuk dan gayung, minum jamu sorongan, dan nyolong endhog (mencuri telur). Rangkaian upacara itu dipercaya sebagai prosesi pengusiran marabahaya dan petaka dari ibu dan calon bayinya.

Ritual mitoni sarat dengan simbolisasi. Upacara siraman, misalnya, adalah simbol pembersihan atas segala kejahatan dari bapak dan ibu si calon bayi. Sedangkan memasukkan telur ayam kampung ke dalam kain calon ibu adalah perwujudan dari harapan agar bayi bisa dilahirkan tanpa hambatan yang berarti. Memasukkan kelapa gading muda ke dalam sarung dari perut atas calon ibu ke bawah adalah simbolisasi agar tidak ada aral melintang yang menghalangi kelahiran si bayi.

Setelah itu calon ibu akan berganti pakaian dengan kain 7 motif. Para tamu diminta untuk memilih kain yang paling cocok dengan calon ibu. Sedangkan pemutusan lawe/lilitan benang atau janur yang dilakukan setelah pergantian kain masih bermakna agar kelahiran berjalan dengan lancar. Lilitan itu harus diputus oleh suami. Pemecahan gayung atau periuk mengandung makna agar saat nanti sang ibu mengandung lagi, diharapkan kehamilannya berjalan dengan lancar. Sedangkan upacara minum jamu sorongan (dorongan) berarti bayi bisa lahir dengan cepat dan lancar seperti disurung (didorong). Dan yang terakhir, mencuri endhog atau telur, merupakan perwujudan atas keinginan calon bapak agar proses kelahiran berjalan dengan cepat, secepat maling yang mencuri.

Untuk melakukan mitoni, harus dipilih hari yang benar-benar bagus dan membawa berkah. Orang Jawa memiliki perhitungan khusus dalam menentukan hari baik dan hari yang dianggap kurang baik. Selain itu, biasanya mitoni digelar pada siang atau sore hari. Hari yang dianggap baik adalah Senin siang sampai malam serta Jumat siang sampai Jumat malam.
Mitoni tidak bisa dilakukan pada sembarang tempat. Dulu mitoni biasa dilakukan di pasren atau tempat bagi para petani untuk memuja Dewi Sri, Dewi Kemakmuran bagi para petani. Namun mengingat dewasa ini sangat jarang ditemui pasren, maka mitoni dilakukan di ruang tengah atau ruang keluarga selama ruangan itu cukup besar untuk menampung banyak tamu. Anggota keluarga yang tertua seringkali dipercaya untuk memimpin pelaksanaan mitoni.

Setelah melakukan serangkaian upacara, para tamu yang hadir diajak untuk memanjatkan doa bersama-sama demi keselamatan ibu dan calon bayinya. Tak lupa setelah itu mereka akan diberi berkat untuk dibawa pulang. Berkat itu biasanya berisi nasi lengkap beserta lauk pauknya.

Oktober 16, 2009 at 2:18 am Tinggalkan komentar

perkembangan tari jaipong

Karya Jaipongjaipongan pertama yang mulai dikenal oleh masyarakat adalah tari “Daun Pulus Keser Bojong” dan “Rendeng Bojong” yang keduanya merupakan jenis tari putri dan tari berpasangan (putra dan putri). Dari tarian itu muncul beberapa nama penari Jaipongan yang handal seperti Tati Saleh, Yeti Mamat, Eli Somali, dan Pepen Dedi Kurniadi. Awal kemunculan tarian tersebut sempat menjadi perbincangan, yang isu sentralnya adalah gerakan yang erotis dan vulgar. Namun dari ekspos beberapa media cetak, nama Gugum Gumbira mulai dikenal masyarakat, apalagi setelah tari Jaipongan pada tahun 1980 dipentaskan di TVRI stasiun pusat Jakarta. Dampak dari kepopuleran tersebut lebih meningkatkan frekuensi pertunjukan, baik di media televisi, hajatan maupun perayaan-perayaan yang diselenggarakan oleh pihak swasta dan pemerintah.

Kehadiran Jaipongan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap para penggiat seni tari untuk lebih aktif lagi menggali jenis tarian rakyat yang sebelumnya kurang perhatian. Dengan munculnya tari Jaipongan, dimanfaatkan oleh para penggiat seni tari untuk menyelenggarakan kursus-kursus tari Jaipongan, dimanfaatkan pula oleh pengusaha pub-pub malam sebagai pemikat tamu undangan, dimana perkembangan lebih lanjut peluang usaha semacam ini dibentuk oleh para penggiat tari sebagai usaha pemberdayaan ekonomi dengan nama Sanggar Tari atau grup-grup di beberapa daerah wilayah Jawa Barat, misalnya di Subang dengan Jaipongan gaya “kaleran” (utara).

Ciri khas Jaipongan gaya kaleran, yakni keceriaan, erotis, humoris, semangat, spontanitas, dan kesederhanaan (alami, apa adanya). Hal itu tercermin dalam pola penyajian tari pada pertunjukannya, ada yang diberi pola (Ibing Pola) seperti pada seni Jaipongan yang ada di Bandung, juga ada pula tarian yang tidak dipola (Ibing Saka), misalnya pada seni Jaipongan Subang dan Karawang. Istilah ini dapat kita temui pada Jaipongan gaya kaleran, terutama di daerah Subang. Dalam penyajiannya, Jaipongan gaya kaleran ini, sebagai berikut: 1) Tatalu; 2) Kembang Gadung; 3) Buah Kawung Gopar; 4) Tari Pembukaan (Ibing Pola), biasanya dibawakan oleh penari tunggal atau Sinden Tatandakan (serang sinden tapi tidak bisa nyanyi melainkan menarikan lagu sinden/juru kawih); 5) Jeblokan dan Jabanan, merupakan bagian pertunjukan ketika para penonton (bajidor) sawer uang (jabanan) sambil salam tempel. Istilah jeblokan diartikan sebagai pasangan yang menetap antara sinden dan penonton (bajidor).

Perkembangan selanjutnya tari Jaipongan terjadi pada taahun 1980-1990-an, di mana Gugum Gumbira menciptakan tari lainnya seperti Toka-toka, Setra Sari, Sonteng, Pencug, Kuntul Mangut, Iring-iring Daun Puring, Rawayan, dan Tari Kawung Anten. Dari tarian-tarian tersebut muncul beberapa penari Jaipongan yang handal antara lain Iceu Effendi, Yumiati Mandiri, Miming Mintarsih, Nani, Erna, Mira Tejaningrum, Ine Dinar, Ega, Nuni, Cepy, Agah, Aa Suryabrata, dan Asep.

Dewasa ini tari Jaipongan boleh disebut sebagai salah satu identitas keseniaan Jawa Barat, hal ini nampak pada beberapa acara-acara penting yang berkenaan dengan tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat, maka disambut dengan pertunjukan tari Jaipongan. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara senantiasa dilengkapi dengan tari Jaipongan. Tari Jaipongan banyak mempengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong menjadi kesenian Pong-Dut.Jaipongan yang telah diplopori oleh Mr. Nur & Leni

Oktober 14, 2009 at 12:44 am Tinggalkan komentar

sejarah tari jaipong

tari jaipongJaipongan adalah sebuah genre seni tari yang lahir dari kreativitas seorang seniman asal Bandung, Gugum Gumbira. Perhatiannya pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah Ketuk Tilu menjadikannya mengetahui dan mengenal betul perbendaharan pola-pola gerak tari tradisi yang ada pada Kliningan/Bajidoran atau Ketuk Tilu. Gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid dari beberapa kesenian di atas cukup memiliki inspirasi untuk mengembangkan tari atau kesenian yang kini dikenal dengan nama Jaipongan

Sebelum bentuk seni pertunjukan ini muncul, ada beberapa pengaruh yang melatarbelakangi bentuk tari pergaulan ini. Di Jawa Barat misalnya, tari pergaulan merupakan pengaruh dari Ball Room, yang biasanya dalam pertunjukan tari-tari pergaulan tak lepas dari keberadaan ronggeng dan pamogoran. Ronggeng dalam tari pergaulan tidak lagi berfungsi untuk kegiatan upacara, tetapi untuk hiburan atau cara gaul. Keberadaan ronggeng dalam seni pertunjukan memiliki daya tarik yang mengundang simpati kaum pamogoran. Misalnya pada tari Ketuk Tilu yang begitu dikenal oleh masyarakat Sunda, diperkirakan kesenian ini populer sekitar tahun 1916. Sebagai seni pertunjukan rakyat, kesenian ini hanya didukung oleh unsur-unsur sederhana, seperti waditra yang meliputi rebab, kendang, dua buah kulanter, tiga buah ketuk, dan gong. Demikian pula dengan gerak-gerak tarinya yang tidak memiliki pola gerak yang baku, kostum penari yang sederhana sebagai cerminan kerakyatan.

Seiring dengan memudarnya jenis kesenian di atas, mantan pamogoran (penonton yang berperan aktif dalam seni pertunjukan Ketuk Tilu/Doger/Tayub) beralih perhatiannya pada seni pertunjukan Kliningan, yang di daerah Pantai Utara Jawa Barat (Karawang, Bekasi, Purwakarta, Indramayu, dan Subang) dikenal dengan sebutan Kliningan Bajidoran yang pola tarinya maupun peristiwa pertunjukannya mempunyai kemiripan dengan kesenian sebelumnya (Ketuk Tilu/Doger/Tayub). Dalam pada itu, eksistensi tari-tarian dalam Topeng Banjet cukup digemari, khususnya di Karawang, di mana beberapa pola gerak Bajidoran diambil dari tarian dalam Topeng Banjet ini. Secara koreografis tarian itu masih menampakan pola-pola tradisi (Ketuk Tilu) yang mengandung unsur gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid yang pada gilirannya menjadi dasar penciptaan tari Jaipongan. Beberapa gerak-gerak dasar tari Jaipongan selain dari Ketuk Tilu, Ibing Bajidor serta Topeng Banjet adalah Tayuban dan Pencak Silat.

Kemunculan tarian karya Gugum Gumbira pada awalnya disebut Ketuk Tilu perkembangan, yang memang karena dasar tarian itu merupakan pengembangan dari Ketuk Tilu. Karya pertama Gugum Gumbira masih sangat kental dengan warna ibing Ketuk Tilu, baik dari segi koreografi maupun iringannya, yang kemudian tarian itu menjadi populer dengan sebutan Jaipongan.

Oktober 14, 2009 at 12:33 am Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


Tyo Prasetiyo

Arsip Artikel

Kalender

Juni 2017
S S R K J S M
« Okt    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930