Budaya “Besik” di Lamongan: Suatu Tinjauan Sosial Budaya

Oktober 13, 2009 at 1:14 am Tinggalkan komentar

lamonganKalau kita melewati pemakaman umum kota Lamongan 3 sampai 4 hari menjelang bulan Romadhon dan hari raya ( Idhul Fitri dan Idhul Adha) maka akan kita dapati keramaian orang berziarah kubur. Diantara orang-orang yang berziarah kubur tersebut terdapat anak-anak dengan sabit ditangan. Mereka bukan bermain atau hanya sekedar nongkrong. Mereka adalah penawar jasa untuk membersihkan makam dan tentu saja untuk mendapat bayaran. Dalam istilah mereka (local) kegiatan membersihkan kuburan untuk mencari uang disebut “besik”.

Secara historis budaya “besik” di Lamongan muncul karena adanya fenomena cultural religius yaitu ziarah kubur. Ziarah kubur dalam ajaran agama islam hukumnya sunnah yang kemudian mendapat legitimasi dari budaya lokal jawa, sehingga ziarah kubur dapat eksis sampai sekarang. Jadi ziarah kubur yang berkembang sekarang ini lebih merupakan suatu gabungan unsur budaya lokal jawa dengan budaya agama islam daripada murni salah satu budaya. Do’a bagi si mayat adalah unsur budaya yang terkandung dari ajaran islam sedangkan membawa bunga dan membersihkan kubur merupakan unsur yang didapat dari budaya lokal jawa. Dan seperti biasa dalam setiap percampuran budaya akan selalu memunculkan budaya baru, baik yang bersifat melengkapi budaya yang ada maupun budaya yang berdiri sendiri. Dan salah satunya adalah budaya besik ini memperoleh tempat sebagai budaya baru yang lahir untuk melengkapi budaya ziarah kubur.

Besik telah berlangsung lama, kurang lebih 3 sampai 4 generasi maka dari itu kebiasaan itu disebut sebagai budaya. Adapun yang berperan disini adalah anak-anak yang usianya rata-rata dibawah 20 tahun. Dengan modal sebuah sabit mereka mengharap banyak pengunjung yang menyuruh mereka membersihkan petak-petak kuburan. Mengenai upah mereka tidak menentukannya, hanya tergantung dari keihlasan pemberi.

Disisi lain besik bisa dipandang sebagai proses komersialisme dari sebuah masyarakat desa. Karena para pembesik ini berasal dari desa-desa pinggiran makam atau dari daerah pinggiran kota Lamongan. Komersialisme atau budaya uang memang dibawa oleh mereka yang ada di kota. Dalam proses interaksi antara masyarakat kota dengan masyarakat desa yang dalam hal ini antara peziarah kubur dengan para pembesik terjadi pengenalan nilai-nilai baru antara mereka. Budaya besik ini juga bisa dilihat sebagi media transformasi budaya yang akan membawa perubahan nilai-nilai yang dianut yang kemudian membawa pada perubahan sikap dan prilaku.

Pada awalnya masyarakat kota dan para orang kaya yang berziarah kubur, tapi mereka enggan untuk membersihkan kuburan, lalu mereka menyuruh orang yang ada disekitar kuburan untuk membersihkannya lalu diberi upah uang. Dan sampai sekarang berkembang sedemikian hingga terbentuk kesalingtergantungan antara pihak peziarah dengan pihak pembesik. Kondisi ini terjadi didukung keadaan pemakaman umum yang tidak terawat dan penuh dengan semak belukar.

Sebelumnya dalam kehidupan masyarakat pinggiran kota masih syarat dengan nilai-nilai gotong royong, sehingga untuk membersihkan kuburan adalah hal yang tidak harus dibayar. Akibat dari perkembangan kota baik secara fisik maupun tingkah laku dan sifat manusianya, maka terjadilah aliran budaya kota ke desa termasuk budaya komersialisme ini yang mampu menggeser nilai-nilai yang bersifat sosial dan perbuatan yang tanpa imbalan.

Pada saat ini daerah pinggiran kota ini lebih terlihat kota dalam artian perilaku dan nilai-nilai yang berlaku dalam kehidupan sosial budayanya. Hal ini terjadi karena interaksi yang berlangsung secara terus-menerus dan dalam waktu yang lama serta adanya perkembangan kota secara wilayah sehingga terjadi proses pengkotaan dari daerah pinggiran kota ini.

Hingga saat ini besik telah dipahami sebagai mata pencaharian musiman oleh para pembesik. Dan sebaliknya bagi para peziarah kubur harus menyiapkan uang tambahan untuk para penjaja jasa itu apabila mereka malas untuk membersihkannya sendiri.

Dari uraian singkat di atas, sedikitnya ada dua hal menarik yang perlu di catat. Pertama, besik merupakan budaya yang lahir atas pertemuan atau percampuran dari dua unsur budaya yang telah ada. Dimana besik hadir atas tuntutan sebuah sistem budaya modern yang kompleks. Kedua, budaya besik mampu menjadi media pergeseran nilai dari masyarakat desa ke masyarakat kota dalam artian tingkah lagu dan pandangan hidup. Budaya uang ( komersialisme) yang dulunya hanya milik orang-orang kota telah mulai dianut oleh orang-orang pinggiran kota.

Dan sebagai akhir tulisan ini, penulis menyimpulkan bahwa besik merupakan kekayaan budaya kita, disamping itu besik juga sebagai mata pencaharian dari golongan kaum miskin pada daerah pinggiran kota. Meskipun besik lebih didominasi kaum anak, namun perputaran uang pada kegiatan ini relative besar dan mampu memberi sedikit kegembiraan beromadhon atau berhari raya. Mereka mempunyai kebanggaan atas hasil yang mereka peroleh yang biasanya diwujudkan dengan pembelian baju lebaran, membayar uang sekolah, membantu keperluan orang tua, atau hanya dibuat untuk kesenangan beli makanan.

Saya rasa fenomena ini tidak hanya terjadi di Lamongan, yang notabenya hanya kota kecil. Di kota-kota lain yang lebih besar fenomena ini banyak terjadi meskipun dengan nama atau istilah yang berbeda. Bahkan saat ini, untuk mendoakan si mayat sudah ada jasa yang menyediakannya. Sekali lagi tidak ada yang salah dari fenomena ini, karena fenomena social ini terjadi akibat perkembangan jaman dan saling terkait dengan masalah prilaku religion masyarakat, budaya masyarakat dan kepentingan ekonomi (ada konsumen ada produsen jasa), serta tuntutan kesejahteraan untuk menyambut hari atau bulan suci

Iklan

Entry filed under: budaya.

Kesenian Aksi Muda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Tyo Prasetiyo

Arsip Artikel

Kalender

Oktober 2009
S S R K J S M
     
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

%d blogger menyukai ini: