Sesaji sawah

Oktober 16, 2009 at 2:42 am 1 komentar

Sesaji2Seiring dengan musim penghujan, saat ini petani sedang sangat sibuk mengerjakan sawah, sebagian ada yang baru menebar benih sambil mengolah tanah, sebagian lagi ada yang sudah mulai tanam. Tantangan yang harus dihadapi oleh petani begitu berat, baik tantangan yang datang dari alam, maupun tantangan yang timbul karena system ekonomi yang belum memihak petani sehingga harga-harga komoditas pertanian tak sebanding dengan harga Saprotan, yang mengakibatkan komoditas pertanian tidak dapat menjadi andalan hidup, toh petani tanpa pernah mengeluh selalu saja tekun mengerjakan sawahnya.

Sistem Pengolahan sawah saat ini telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, jika dibandingkan dengan 20 atau 30 tahun yang lalu sudah ibarat bumi dengan langit. Pada tahun 70an pengolahan tanah, masih dilakukan dengan cara tradisional. Kerbau dan Sapi adalah andalan utama untuk mengerjakan sawah, dengan alat yang bernama “Weluku” Dan “Garu” petani menghaluskan lahan yang akan ditanami. Jenis padi yang ditanam juga sangat berbeda, mungkin varitas padi yang ada pada tahun 70 seperti padi Gandamana, Mundung, Blaster, Sempor dan lain-lain yang merupakan varietas local dengan masa panen sapai 120 hari saat ini sudah tidak ditemukan lagi.

Demikian juga alat untuk menuai padi, jika dulu menuai padi menggunakan alat yang bernama “ani-ani” atau ‘ketam” dimana dengan alat tersebut setiap batang padi dipetik satu persatu, sekarang panen padi menggunakan sabit, atau bahkan mesin yang mampu menuai padi secara masal. Pengolahan pasca panen dan penyimpanan hasil panen juga sudah jauh berbeda. “Kondong “ atau “Lumbung” padi merupakan media penyimpanan padi yang umum dimiliki oleh setiap petani saat itu, padi yang dipetik menggunakan “Ani-ani” memiliki batang yang cukup panjang untuk dikat menjadi satu kesatuan ikatan yang biasa disebut “Pauk”, “sepauk” berarti seikat . Pengeringan padi saat itu dilakukan dengan menjemur pada terik matahari, padi digelar dalam bentuk susunan yang saling menindih sehingga dalam jumlah yang banyak akan menyerupai susunan sirip ikan. Selain dengan cara itu pengeringan juga dilakukan dengan cara menjemur pada secara ‘Paukan” yaitu menjemur padi tanpa melepaskannya dari ikatan, posisi bulir padi berada di atas sedangkan batang padi berada di bawah. Setelah kering, padi dimasukkan ke dalam “Kondong” atau “Lumbung” disusun bersap-sap.

Rasa kebersamaan dan kesatuan antara petani dengan alam pada saat itu masih sangat kental. Seorang petani memiliki keyakinan menggarap sawah bukan semata-mata secara kegiatan ekonomis, tetapi juga kegiatan yang bersifat religius. Mereka punya keyakinan bahwa Jagat raya seisinya ini merupakan satu kesatuan yang utuh dibawah kendali Yang Maha Kuasa, oleh karenanya maka manusia dan alam harus menyatu, saling menjaga, saling menghormati.

Alam tidak akan pernah bohong, manakala alam diperlakukan dengan baik pasti akan membalasnya dengan hasil yang baik, sebaliknya bila alam diperlakukan dengan buruk pasti akan membalas dengan keburujkkan yang lelbih berat. Dalam mengerjakn sawah seorang petani bukan saja berusaha menghormati dan menghargai alam wujud seperti Bumi, air, angina dan api, tapi juga berusaha menghormati dan menghargai mahluk tak berujud yang tidak kasat mata, para leluhur yang sudah meninggal ataupun para penghuni suatu tempat.

Oleh karenaya maka setiap akan melakukan kegiatan pertanian mereka senantiasa berusaha menjalin hubungan baik dengan mahluk lain baik yang nampak maupun yang tidak. Bentuk jalinan itu adalah upacara-upacara yang meskipun sangat sederhana tetapi memiliki nilai social dan religius yang tinggi. Upacara-upacara yang dilakukan sebagai wujud rasa syukur pada Tuhan antara lain dilakukan pada saat akan menanam padi, menuai padi dan memasak untuk yang pertama kali dari hasil panen.

Upacara dilaksanakan dengan cara “kenduri” atau ‘Kepungan” dimana disitu diundang tetangga kanan kiri untuk makan bersama. Jenis makanan yang dihidangkan sebenarnya juga sangat sederhana yaitu tumpeng dengan lauk sekedarnya, kupat dan lepet. Selamatan atau kenduri untuk tiap-tiap kegiatan yang berhubungan dengan proses pertanian memiliki nama atau istilah yang berbeda beda. Kenduri untuk memulai tanam disebut “Nuruni”, kenduri untuk memulai memetik padi disebut “ Mimiti’ sedang kenduri untuk menikmati masakan pertama hasil panen disebut ‘Nganyari”. Doa-doa yang disampaikan berisi doa keselamatan, dan doa syukur atas segala nikmat Tuhan, pada acara itu juga disampaikan penghormatan kepada para leluhur maupun para penghuni alam yang tidak tampak. Mereka dimohon untuk hidup bersama dalam keselarasan, tidak saling mengganggu, bahkan kalau mau mereka diminta untuk membantu petani.

Malam hari setelah diadakan kenduri biasanya dilanjutkan dengan acara “Ngidung”. Kegiatan ini dilakukan sampai larut malam yang diisi dengan menyanyikan tembang-tembang jawa seperti Dandanggula, Kidung, Sinom, Gambuh, Megatruh, Pucung, dan tembang tembang lain. Tembang yang dibacakan syairnya berisi ajaran tentang hakekat hidup, hubungan manusia dengan Tuhan, doa-doa, atau mantra-mantra penolak bala dan penarik rejeki.

Wujud lain  dari penghormatan petani kepada seluruh alam beserta isinya adalah disediakannya suatu hidangan yang dikemas sedemikian rupa dalam bentuk yang unik dengan wadah yang unik pula diletakkan pada suatu tempat tertentu, hidangan ini disajikan entah untuk siapa, apakah untuk manusia apakah ditujukkan untuk hidangan para lelembut atau hanya sekedar perlambang atau sanepa, tak seorangpun dapat memberi penjelasan yang memadai.

Yang diketahui hanyalah istilah bagi hidangan tersebut yaitu “Sesaji” atau “Sajen”. Biasanya “Sesaji” atau “Sajen” ditempatkan pada suatu wadah yang terbuat dari bamboo dibentuk sedemikian rupa dan ditempatkan pada titik tertentu di sekitar sawah, wadah itu disebut “Sanggar” Sanggar biasanya ditempatkan di ujung atas sawah dekat dengan aliran air ( Pancuran atau Crowokan ) yang masuk ke sawah tersebut, lokasi ini biasa disebut “Tulakan”, sedangkan ujung bawah atau tempat keluarnya air dari sawah disebut “Jejekan”. Nah dikedua lokasi itulah biasanya Sesaji diletakkan. Penempatannya dilakukan sore hari menjelang maghrib oleh seorang tetua yang biasa disebut “Juru Sanggar” atau “Tukang Sanggar”.

Adapun isi dari hidangan atau sesaji antara lain air putih, air the, air, kopi, air putih yang diberi daun dadap srep, tiga atau lima buah Poncot yaitu miniatur tumpeng, sebutir telor ayam, sebatang rokok klembak menyan, sebatang rokok kawung ( rokok linting dengan bungkus kulit daun jagung ), pisang ambon, pisang raja, Kelapa muda dan dibarengi dengan asap kemenyan yang mengalun lembut menebarkan aroma penuh misteri.

Seiring dengan kemajuan jaman dan teknologi, apa yang menjadi tradisi petani dimana 20 – 30 tahun yang lalu merupakan kegiatan dan pemandangan sehari hari, saat ini sudah sangat sulit ditemukan. Kita akan sangat sulit menemukan Kerbau atau sapi yang sedang dipekerjakan untuk mengolah sawah, yang ada adalah Traktor, tidak ada lagi orang mencegah dan mengusir hama dengan “Anton-anton” ramuan beberapa jenis daunan yang diracik sedemikian rupa, dipipis lembut, kemudian airnya di tebarkan di pancuran sehingga semua bagian sawah terkena cairan tersebut.

Sekarang yang kita temukan adalah obat-obat kimia dalam kemasan kaleng atau plastic. Tidak ada lagi suara “lesung” bertalu-talu yang mengalunkan musik indah dari samping rumah dimana para ibu-ibu dengan canda riang menumbuk padi penuh rasa suka. Sekarang yang ada adalah deru Rice Mile, Tidak ada lagi “Kondong” atau “Lumbung”, tidak ada lagi alunan kidung “Dandanggula” yang dtembangkan malam hari menjelang panen tiba.

Dunia telah berubah banyak, apakah keyakinan dan kebersahajaan dan kebersamaan dengan alam sekitar, baik alam wujud maupun non wujud sudah sedemikian luntur ? Entahlah. Yang jelas kemarin Godreell masih melihat bapak-bapak tani mencabuti benih padi atau “Ndaut”, sementara Ibu-ibu rame menanam padi diantara gemericik air bening dipancuran, dan disebuah pematang dekat dengan pancuran terlihat sebuah nampan yang didalamnya terdapat beberapa gelas berisi air, ada air Putih, Kopi, Teh, air putih yang diberi daun dadap srep, Ada “Poncot”, Telut rebus, Rokok Klembak menyan, rokok Linting Klaras, dan Sebuah kelapa muda yang dikupas pangkalnya, disamping nampan terdapat daun andong merah yang ditancapkan di dekat pematang sawah, sudah tidak ada alunan asap kemenyan, yang ada adalah dua ekor belalang sawah yang sedang bercengkerama di tepi pematang.

Ya, ternyata diantara gegap gempitanya modernisasi desa, modernisasi pertanian, ditengah ketidak pastian nasib petani karena harga pupuk dan saprotan mahal, sementara alam juga semakin tidak bersahabat sehingga mengharapkan hasil panen adalah semata-mata mengharapkan sifat Rahman-Rahim-NYA, masih ada orang yang melaksanakan ritual “memasang Sesaji” di Pematang sawah.

Apakah dia tahu Maksud dan tujuannya memasang sesaji, apakah sesaji itu untuk memberi makan mahluk halus, apakah sekedar mengikuti tradisi orang tua, melestarikan budaya, apakah wujud dari keterbatasan pengetahuan agama, atau wujud dari kepasrahan petani yang tidak mampu menentukan nasibnya sendiri karena arus global yang tak pernah memihaknya ?

Iklan

Entry filed under: budaya. Tags: .

Upacara Mitoni (7 bulanan) Nyadran di Bengawan Solo

1 Komentar Add your own

  • 1. mlakumlaku1  |  September 23, 2014 pukul 7:12 am

    apakah ada contoh sesaji untuk rumah baru ? saya sedang mencarinya. Trims.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Tyo Prasetiyo

Arsip Artikel

Kalender

Oktober 2009
S S R K J S M
     
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

%d blogger menyukai ini: