tari tayub jawa

tayubTari Tayub atau acara Tayuban. merupakan salah satu kesenian Jawa yang mengandung unsur keindahan dan keserasian gerak. Tarian ini mirip dengan tari Jaipong dari Jawa Barat. Unsur keindahan diiikuti dengan kemampuan penari dalam melakonkan tari yang dibawakan. Tari tayub mirip dengan tari Gambyong yang lebih populer dari Jawa Tengah. Tarian ini biasa digelar pada acara pernikahan, khitan serta acara kebesaran misalnya hari kemerdekaan Republik Indonesia. Perayaan kemenangan dalam pemilihan kepala desa, serta acara bersih desa. Anggota yang ikut dalam kesenian ini terdiri dari sinden, penata gamelan serta penari khususnya wanita. Penari tari tayub bisa dilakukan sendiri atau bersama, biasanya penyelenggara acara (pria). Pelaksanaan acara dilaksanakan pada tengah malam antara jam 9.00-03.00 pagi. Penari tarian tayub lebih dikenal dengan inisiasi ledhek.

Oktober 14, 2009 at 12:28 am Tinggalkan komentar

Kesenian Aksi Muda

Sebagian orang maksimuda-1.thumbnailenyebut kesenian ini sebagai “peksi muda” yang artinya “burung muda” yang lincah. Dimaksudkan untuk menggambarkan dinamisnya para pemuda dalam olah gerakan silat dan tarian. Kesenian ini sudah hampir punah karena perubahan jaman. Di Banyumas, kelompok kesenian ini hanya tinggal satu kelompok tua yaitu di kecamatan Tambak, Banyumas  timur.  Kelompok ini menamakan dirinya kelompok aksi muda “setia muda”. Meskipun  banyak menggunakan kata muda, namun pada kenyataannya mereka sudah tua-tua, dan hanya beberapa yang masih terlihat muda (generasi penerus). Kesenian ini dipimpin seorang pendekar yang menguasai betul tentang gerakan pencak silat, tenaga dalam, magic, tarian, ketukan musik dan keselarasannya. Selain sebagai hiburan yang atraktif, kesenian ini mengandung berbagai makna dalam setiap lagu dan gerakannya.

Menurut sejarahnya, kesenian ini muncul pada jaman colonial belanda, pada masa penjajahan. Pada jaman dulu kesenian ini merupakan modifikasi dari latihan beladiri pencak silat, karena beladiri waktu itu dilarang oleh Belanda. Jadi dengan kearifan local dan kecerdasan para pendekar, maka dibuatlah sebuah kesenian yang menggabungkan unsure musik, tari, nyanyian (sholawat dan syiir) dan pencak silat. Meskipun berkesenian, mereka tidak meninggalkan unsure pencak silat sebagai bela diri.

Kesenian ini diawali oleh pembacaan sholawat bersama sambil diiringi oleh rebana dan kendang. Kemudian di sambung rodat atau tarian sambil duduk dan berdiri. Lalu dilanjutkan dengan gerakan-gerakan dasar silat untuk pemanasan dengan masih diiringi musik sholawatan. Lantas disambung dengan tarung silat bergantian yang masing-masing orang. Setelah itu dilanjutkan dengan adu tenaga dalam dengan berbagai gaya. Sebagai puncak acara diperlihatkan aksi-aksi debus yang menegangkan serta aksi-aksi kesurupan sampai selesai.

Oktober 13, 2009 at 2:30 am Tinggalkan komentar

Budaya “Besik” di Lamongan: Suatu Tinjauan Sosial Budaya

lamonganKalau kita melewati pemakaman umum kota Lamongan 3 sampai 4 hari menjelang bulan Romadhon dan hari raya ( Idhul Fitri dan Idhul Adha) maka akan kita dapati keramaian orang berziarah kubur. Diantara orang-orang yang berziarah kubur tersebut terdapat anak-anak dengan sabit ditangan. Mereka bukan bermain atau hanya sekedar nongkrong. Mereka adalah penawar jasa untuk membersihkan makam dan tentu saja untuk mendapat bayaran. Dalam istilah mereka (local) kegiatan membersihkan kuburan untuk mencari uang disebut “besik”.

Secara historis budaya “besik” di Lamongan muncul karena adanya fenomena cultural religius yaitu ziarah kubur. Ziarah kubur dalam ajaran agama islam hukumnya sunnah yang kemudian mendapat legitimasi dari budaya lokal jawa, sehingga ziarah kubur dapat eksis sampai sekarang. Jadi ziarah kubur yang berkembang sekarang ini lebih merupakan suatu gabungan unsur budaya lokal jawa dengan budaya agama islam daripada murni salah satu budaya. Do’a bagi si mayat adalah unsur budaya yang terkandung dari ajaran islam sedangkan membawa bunga dan membersihkan kubur merupakan unsur yang didapat dari budaya lokal jawa. Dan seperti biasa dalam setiap percampuran budaya akan selalu memunculkan budaya baru, baik yang bersifat melengkapi budaya yang ada maupun budaya yang berdiri sendiri. Dan salah satunya adalah budaya besik ini memperoleh tempat sebagai budaya baru yang lahir untuk melengkapi budaya ziarah kubur.

Besik telah berlangsung lama, kurang lebih 3 sampai 4 generasi maka dari itu kebiasaan itu disebut sebagai budaya. Adapun yang berperan disini adalah anak-anak yang usianya rata-rata dibawah 20 tahun. Dengan modal sebuah sabit mereka mengharap banyak pengunjung yang menyuruh mereka membersihkan petak-petak kuburan. Mengenai upah mereka tidak menentukannya, hanya tergantung dari keihlasan pemberi.

Disisi lain besik bisa dipandang sebagai proses komersialisme dari sebuah masyarakat desa. Karena para pembesik ini berasal dari desa-desa pinggiran makam atau dari daerah pinggiran kota Lamongan. Komersialisme atau budaya uang memang dibawa oleh mereka yang ada di kota. Dalam proses interaksi antara masyarakat kota dengan masyarakat desa yang dalam hal ini antara peziarah kubur dengan para pembesik terjadi pengenalan nilai-nilai baru antara mereka. Budaya besik ini juga bisa dilihat sebagi media transformasi budaya yang akan membawa perubahan nilai-nilai yang dianut yang kemudian membawa pada perubahan sikap dan prilaku.

Pada awalnya masyarakat kota dan para orang kaya yang berziarah kubur, tapi mereka enggan untuk membersihkan kuburan, lalu mereka menyuruh orang yang ada disekitar kuburan untuk membersihkannya lalu diberi upah uang. Dan sampai sekarang berkembang sedemikian hingga terbentuk kesalingtergantungan antara pihak peziarah dengan pihak pembesik. Kondisi ini terjadi didukung keadaan pemakaman umum yang tidak terawat dan penuh dengan semak belukar.

Sebelumnya dalam kehidupan masyarakat pinggiran kota masih syarat dengan nilai-nilai gotong royong, sehingga untuk membersihkan kuburan adalah hal yang tidak harus dibayar. Akibat dari perkembangan kota baik secara fisik maupun tingkah laku dan sifat manusianya, maka terjadilah aliran budaya kota ke desa termasuk budaya komersialisme ini yang mampu menggeser nilai-nilai yang bersifat sosial dan perbuatan yang tanpa imbalan.

Pada saat ini daerah pinggiran kota ini lebih terlihat kota dalam artian perilaku dan nilai-nilai yang berlaku dalam kehidupan sosial budayanya. Hal ini terjadi karena interaksi yang berlangsung secara terus-menerus dan dalam waktu yang lama serta adanya perkembangan kota secara wilayah sehingga terjadi proses pengkotaan dari daerah pinggiran kota ini.

Hingga saat ini besik telah dipahami sebagai mata pencaharian musiman oleh para pembesik. Dan sebaliknya bagi para peziarah kubur harus menyiapkan uang tambahan untuk para penjaja jasa itu apabila mereka malas untuk membersihkannya sendiri.

Dari uraian singkat di atas, sedikitnya ada dua hal menarik yang perlu di catat. Pertama, besik merupakan budaya yang lahir atas pertemuan atau percampuran dari dua unsur budaya yang telah ada. Dimana besik hadir atas tuntutan sebuah sistem budaya modern yang kompleks. Kedua, budaya besik mampu menjadi media pergeseran nilai dari masyarakat desa ke masyarakat kota dalam artian tingkah lagu dan pandangan hidup. Budaya uang ( komersialisme) yang dulunya hanya milik orang-orang kota telah mulai dianut oleh orang-orang pinggiran kota.

Dan sebagai akhir tulisan ini, penulis menyimpulkan bahwa besik merupakan kekayaan budaya kita, disamping itu besik juga sebagai mata pencaharian dari golongan kaum miskin pada daerah pinggiran kota. Meskipun besik lebih didominasi kaum anak, namun perputaran uang pada kegiatan ini relative besar dan mampu memberi sedikit kegembiraan beromadhon atau berhari raya. Mereka mempunyai kebanggaan atas hasil yang mereka peroleh yang biasanya diwujudkan dengan pembelian baju lebaran, membayar uang sekolah, membantu keperluan orang tua, atau hanya dibuat untuk kesenangan beli makanan.

Saya rasa fenomena ini tidak hanya terjadi di Lamongan, yang notabenya hanya kota kecil. Di kota-kota lain yang lebih besar fenomena ini banyak terjadi meskipun dengan nama atau istilah yang berbeda. Bahkan saat ini, untuk mendoakan si mayat sudah ada jasa yang menyediakannya. Sekali lagi tidak ada yang salah dari fenomena ini, karena fenomena social ini terjadi akibat perkembangan jaman dan saling terkait dengan masalah prilaku religion masyarakat, budaya masyarakat dan kepentingan ekonomi (ada konsumen ada produsen jasa), serta tuntutan kesejahteraan untuk menyambut hari atau bulan suci

Oktober 13, 2009 at 1:14 am Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Baru


Tyo Prasetiyo

Arsip Artikel

Kalender

Agustus 2017
S S R K J S M
« Okt    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031